Fix di Italia berjaya lagi. Tinggal jajal Liga Champion. – with JCI Jakarta at Kost Mona dan Bungsu

View on Path

Advertisements

Konversasi (6)

“Jadi dimana dia sekarang Pak?”

“Tergantung apa keyakinanmu, Dik”

-Kota Tua, siang hari-

Azospermi

Lintang terdiam beberapa saat dan mencoba mencerna apa yang baru dikatakan pacarnya. Mencoba menyusun kerangka logika untuk bisa sampai kepada kondisi yang sedang terjadi pada Shinta, wanita yang baru dipacarinya 3 bulan yang lalu.

“Kok kamu diam aja sih? Gimana nih sayang. Kan aku udah bilang, sebelum main itu pake kondom, kamu sih udah keburu nafsu. Pake bilang bisa keluarin di luar. Kan kamu tau, yang keluar itu bukan pas di akhir doang, yang pas kita main itu udah ada yang keluar…!”

Lintang hanya terdiam mendengar pacarnya tak berhenti mengomeli dia. Masih berpikir, Lintang pelan-pelan memegang dagu, menyusuri apa yang terjadi belakangan ini. Outbond.. Makan malam pulang kantor.. Kumpul-kumpul dengan teman.. Reunian..

Dia terkesiap ketika ingatannya sampai pada reunian di Cofflea Cafe sebulan yang lalu. Bertemu Adrian, tatapan Shinta yang tidak biasa, Shinta yang kadang tidak bisa dihubungi sepulang dari kantor…

“Lintang! Hey! Kamu denger aku ga sih?! Kamu kok diam aja sih daritadi?! Ngomong dong! Kamu harus tanggung jawab! Masalah nikah gampang. Nanti aku..”

Omelan Shinta mendadak berhenti seiring tamparan keras mendarat pedas dan panas di pipi kanannya. Dia melenguh sejenak, seakan itu bisa menghilangkan sakit di pipinya dengan seketika. Sambil tetap memegangi pipinya, Shinta berkata pelan,”Kamu.. Kenapa..”

Lintang menatapnya tajam namun tenang, serta berkata tak kalah pelannya namun terasa jelas di telinga Shinta, “Lo kalo mau manfaatin gue demi harta yang gue punya, lebih baik lo balik aja ke Adrian, tunggu aja bentar dia pasti udah kaya lagi, trus lo bisa porotin lagi. Dasar pelacur!” dan dengan tegas langkahnya meninggalkan Shinta yang masih terdiam dan shock,  secara tidak sadar masih memegangi pipi kanannya, berpikir mengapa Lintang tahu secepat itu.


azos·per·mi
/azospérmi/ a mandul krn sperma tidak mengandung sel mani hidup dan aktif

Perihal Mencintai

Menarik jika kita menyadari bahwa kita sebenarnya tidak bebas untuk memilih orang yang kita sukai. Kita sering berpikir, kita memiliki hak penuh dalam memilih orang yang kita sukai. According to me, not really.

Apakah kita pernah mengalami kejadian dimana kita mempunyai teman, yang cantik/tampan, manis, baik dan paket lainnya, tapi kita tidak punya rasa cinta sedikitpun kepadanya? Well, kalo dia ternyata saudaramu ya pasti lah rasa cintamu beda dengan rasa cinta yang kita sedang bicarakan ini. Anggaplah teman, atau tetangga, atau kenalan di lingkungan sekitar kita? Atau sebaliknya, pernah kau mempunyai teman yang sebenarnya, kalau dilihat-lihat, tidak terlalu manis atau cantik, not bad lah, baik sih, tapi sering ngiler, kalo ketawa satu pulau bisa kedengaran, dan paket lainnya, tapi kamu sayang? Kalo belum pernah, lihatlah sekitarmu. Pasti ada. Dan kita kadang bertanya, kenapa dia bisa memilih orang ini? Kenapa dia bisa punya pasangan tapi aku yang yang secara fisik dan karakter lebih baik dari dia bahkan belum punya gebetan?

Well, saya sih ga punya urusan untuk kamu yang sampai sekarang tidak punya pasangan bahkan gebetan padahal (menurut kamu sendiri(an)) kamu itu cakep, baik, berkharisma, dan seterusnya. Yang jadi bahan pemikiran saya adalah, apakah kita memang punya hak untuk memilih orang yang disukai dan dicintai?

Saya memang bukan psikolog gebetan saya yang psikolog  tapi saya selalu tertarik untuk kasus orang-orang yang memiliki kelainan orientasi seksual, entah itu homo/lesbian (suka terhadap sesama jenis), pedophilia (suka sama anak kecil/yang jauh lebih muda), bestially (suka terhadap binatang. ergh.), dan lainnya. Nah pertanyaannya, apakah mereka memilih untuk menjadi seperti itu?

Kayaknya ngga deh. Mereka membawa disorientasi tersebut saat mereka lahir. Bukan mereka menjalani dulu baru memilih, ‘mana yang paling saya sukai’. Emangnya eskrim. Kita bahkan dapat melihat itu dari mereka kecil. Perilaku, omongan, pemikiran yang juga tertuang dalam tindakan (asik ye ngomong gue), semuanya sudah menunjukkan bahwa orientasi seksual itu sudah dibawa saaat masing-masing individu lahir. Sang Pencipta sudah memasangkan ke masing-masing orang sebelum mereka ‘terjun’ ke dunia.

Jadi, balik lagi ke awal, apakah menurut kalian manusia itu punya kebebasan untuk memilih siapa yang disukai atau dicintainya? I just pull the trigger so you can think about it furthermore. Saya harap Anda dapat menikmati apa yang saya tulis. Boleh mencerca jika Anda menganggap tulisan ini tidak berbobot atau tidak punya esensi, tapi setidaknya saya puas sudah menuangkan pemikiran saya ke dalam tulisan, agar saya dapat belajar untuk mencintai pilihan Tuhan untuk saya. Mungkin itu teman masa kecil saya, tetangga, teman sekolah atau… Anda?


Her.

Jobong

“Pagi. Slot berapa untuk lusa?”

“Selamat pagi Pak. Untuk lusa yang tersedia selot 15 jam 3 sore. Untuk spesifikasi mungkin belum dapat ditentukan.”

“Oh begitu. Tolong kabari kepastiannya ya. Saya serius mau ambil slot ini.”

“Oke Pak. Ada tambahan requirement untuk slot ini?”

“Seperti biasa saja.”

“Oh berarti paket full ya Pak.”

“Nah iya. Tolong berikan yang terbaik, kalian pasti tahu sangat pentingnya proyek ini di perusahaan saya”

“Siap Pak, jangan pernah ragukan pelayanan kami. Bukankah itu yang membuat Bapak selalu mempercayakan hal ini kepada kami?”

“Hehehe pasti. Apakah ruangan yang tersedia deluxe?”

“Maaf Pak untuk hari ini yang ada hanya eksklusif. Namun itu bisa ditutupi dengan expert service kami”

“Hmm ya sudah nggak apa-apa.”

“Oke ada lagi yang bisa dibantu?”

“Untuk saat ini tidak. Kalau ada tambahan nanti saya telepon lagi. Terimakasih.”

“Sama-sama Pak. Kami harap pelayanan kami meninggalkan kesan yang baik. Memberi yang terbaik, menyenangkan hari Anda. Selamat siang..”

*klik* Telepon ditutup.

Pria itu kembali duduk di kursi empuknya hitamnya. Kursi yang kini ditempatinya belum lama karena kenaikan jabatan di kantor. Bibirnya cekung oleh senyum yang dikulum. Memberi yang terbaik, menyenangkan hari Anda. Tidak salah mereka punya motto itu, pikirnya. Sudah terbukti bertahun-tahun. Dengan merenggangkan otot di sekujur tubuhnya yang kaku, tawanya membahana mengisi kesunyian ruangannya. Tawa paling bahagia pada malam itu.

jo·bong Jk n pelacur; perempuan piaraan

Kalikausar

“Adeeek, kok mainannya belum dirapiin? Kita mau berangkat lho inii” Sembari menutup kardus-kardus yang siap diantar ke truk, Bunda berteriak mencari adik yang saat itu masih berada di lantai dua. Kalau ada penghargaan untuk orang yang paling sibuk se-kabupaten Bandung untuk hari ini, aku yakin pasti Bunda lah pemenangnya. Tangan, kaki, bahkan mulutnya, hampir tidak pernah berhenti bergerak untuk membereskan barang-barang yang akan kami antar ke truk dalam rangka pindah rumah.

Adek yang terakhir ku lihat duduk di sudut kamar karena kecapaian, sayup-sayup kudengar menjawab pelan “Disini, Ma..”

Aku yang tinggal mengangkat koper berisi pakaian Ayah, duduk sejenak untuk mengatur napas. Kupikir yang paling melelahkan itu adalah membersihkan rumah sampai ke sudut-sudutnya. Ternyata nggak. Pindah rumah lah yang paling bikin capek. Aku tak menyangka kami akan pindah semendadak ini. Tak lepas dari ingatanku ketika aku berteriak ke ayah bahwa aku sudah nyaman di Bandung, dengan segala lingkungan pertemananku, dengan relasi dan komunitas yang telah aku miliki. Juga dengan dia, tempat ternyamanku dan pemujaku melalui sajak-sajak puisinya. Aku tak bisa menahan kesedihan melihat wajahnya ketika kubilang aku akan pindah.

Lamunanku menguap ketika teriakan Bunda kembali memanggil Adek yang saat ini kuyakini sudah tertidur di kasurnya. Aku bergegas menyelesaikan masalah angkat-mengangkat barang ini sebelum Bunda juga berteriak kepadaku.

“Hayo cepat diselesaikan Nak. Sopirnya sudah bilang cepat karena tidak mau kena macet”

“Iya Bu, ini udah yang terakhir kok”

“Dan jangan lupa panggil adikmu untuk langsung masuk saja ke mobil, mainannya biar Teteh Mia yang bereskan.”

“Siap, Komandan!”

Ibu tersenyum. Ibu selalu tersenyum jika aku menjawab seperti itu. Habis, walaupun Ibu pada dasarnya seorang bidan, tapi kokoh badannya sudah seperti seorang tentara berpangkat Kolonel.

Aku mengusap peluhku sembari duduk di lantai truk menghadap keluar setelah selesai mengangkat dan menyusun kardus yang tadinya diletakkan begitu saja. Aku baru saja berpikir untuk membeli es doger di ujung jalan ketika aku mendengar suara itu. Suara yang khas. Suara yang selalu menenangkanku ketika penyakit panikku kambuh bahkan untuk hal yang sepele. Suara yang selalu menutup hariku dan mengucapkan selamat tidur menjelang tidur.

“Sudah mau berangkat ya?”

Aku terkesiap melihat pacarku. Kaget kalau dia akan datang. Tadinya dia bercanda bilang tidak akan datang, jadi aku sudah berpikir kalau dia tidak akan kuat melihatku pergi.

Tanpa berkata apapun aku menghambur ke arahnya. Memeluknya dengan erat.

“Dio, kamu jadi datang ya? Aduh aku kangen ini..”

“Kangen kan untuk orang yang jaraknya jauh. Ini kita kan saling memeluk” kelakar puitisnya membuat aku tertawa. Ayah dan Teteh Mia tersenyum melihat kami berdua tertawa sambil berpelukan. Dio sudah mendapat di hati Ayah, Bunda, Teh Mia, bahkan juga Adek. Makanya mereka juga agak sedih melihat aku bakal jauh dari Dio.

“Udah selesai beres-beresnya?”

“Udah. Ini barang-barangnya udah rapi juga kok. Masih ada ruang untuk kamu kalo mau ikut. Hehehe”

“Hahaha. Boleh deh, tapi ntar kalo udah sampai disana kamu bakal liat aku pingsan karena kehabisan oksigen”

“Hahaha”

Tawa kami mereda ketika tangan halus Bunda menepuk pundakku seraya berkata, ” Eh Nak Dio, mau menyampaikan ucapan perpisahan nih?”

“Hahaha ngga Tante, tadi cuma mau bantu-bantu tapi ternyata semua udah beres ya”

“Hehe iya Nak. Kalau kamu rindu Nisa ya datang aja ke rumah kami. Cuma dua jam perjalanan kok.”

“Iya Tante, nanti saya bisa telpon juga kok kalo kadar rindunya masih bisa diatasi hehehe”

“Ya sudah kami berangkat dulu ya Nak. Nanti kalau sudah sampai Nisa pasti kabari kamu” kata Ibu ssambil memeluk bahuku.

“Oke Tante. Jagain Nisa-nya ya Tan supaya ga kecantol ama cowok Jakarta” Dio berkata sambil terbahak sementara aku pura-pura sebal.

“Hehehe oke. Barang-barang sudah beres semua kan?”

“Sudah Bunda. Semua sudah diangkut dan rapi di truk dan mobil kita”

“Apa perlu Mama pastikan lagi nih? Ayah bakal marah lho kalo ada yang ketinggalan. Ayah tidak mau kembali kesini hanya karena satu kardus tertinggal”

“Ngga Bundaaa. Aku udah lihat semua sudut rumah. Ngga ada yang ketinggalan”

“Oke kalau begitu kami berangkat dulu ya Dio” ujar Ibuku sambil mencium pipi kiri dan kanan Dio. Teteh Mia juga menyalamnya. Tak lupa aku, tapi tidak mungkin menciumnya di depan kedua orang tuaku dan kakakku. Jadi aku hanya memeluknya dengan erat, berharap esok pagi aku bisa kembali dibonceng seperti hari-hari biasa menuju sekolah.

Sambil menatap dalam ke mataku dia berkata,”Kamu kabarin aku ya. Segala kegiatanmu. Setiap langkahmu. Setiap hembusan nafasmu.”

Aku hanya tertawa melihat dia masih bisa bercanda dengan puitis di saat-saat seperti itu.

“Iya. Kamu juga kabari aku ya gimana perkembangan buku puisi kamu itu. Kalo udah jadi kirim ke rumah ya”

“Iya. pasti. Janji.” Dia tersenyum.

Sambil melangkah masuk ke mobil aku masih menatapnya, berharap dia ikut. Setelah membuka kaca jendela, dia bertanya lagi, “Ga ada lagi barang yang tinggal kan?”

“Nggaaak Dio sayang. Udah beres semua.”

Dan setelah itu mobilpun melaju pelan, meninggalkan Dio, yang melambaikan tangannya tinggi, mengiringi kepergian kami. Ya walaupun tidak terlalu jauh, tapi tetap saja kehadiran fisik sangat penting. Mungkin aku sekali sebulan, atau bahkan sekali seminggu, akan kembali ke Bandung, hanya untuk mengunjungi Dio. Aku selalu sayang sama Dio. Begitu juga keluargaku. Ayah, Bunda, Teh Mia, adek….

Seketika aku sadar dari lamunan. Pada saat itu juga Bunda menatapku. Pada saat yang sama juga, anehnya, Teh Mia juga menatapku. Seakan-akan kami mempunyai pikiran yang sama. Tapi aku yakin pikiran kami sama, karena setelah itu kami berteriak bersama,

“ADEEEEEEEKKKKK!!”

ka·li·kau·sar kl n barang-barang